Rabu, 05 Oktober 2011

Wacana dalam tataran semi Ilmiah

Setelah sebelumnya kita membahas tentang pemanfaatan bahasa Indonesia pada tataran ilmiah, kali ini kita akan membahas pemanfaatannya pada tataran semi ilmiah.
Semi Ilmiah adalah karangan ilmu pengatahun yang menyajikan fakta umum dan menurut metodologi panulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen. Karakteristiknya :  berada diantara ilmiah. Bentuk karangan semi ilmiah yaitu artikel, editorial, opini, tips, reportase, dan resensi buku. Ciri khusus dari karangan semi ilmiah adalah menggunakan opini dari seseorang. Berikut adalah contoh pemanfaatan bahasa Indonesia pada tataran semi ilmiah :




6 Menteri Berpeluang Diganti, 3 Lengser
Peneliti Indo Bometer M Qodari mengungkapkan prediksinya terkait sejumlah menteri yang kemungkinan akan diganti jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merombak susunan Kabinet Indonesia Bersatu II. Menurutnya, ada sembilan menteri yang kemungkinan diganti. Tiga di antaranya berpotensi besar lengser.
“Yang berpotensi besar di-reshuffle, pertama, Menteri BUMN Mustafa Abubakar karena beliau kan sakit, ya,” katanya dalam acara diskusi Polemik, di Jakarta, Sabtu (24/9/2011).
Selain itu, menurutnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy dan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Menurut Qodari, Darwin selayaknya diganti karena banyak target kerjanya yang tidak tercapai.
“Target 2012 pun akan direvisi. Kalau kontrak kerjanya ESDM kan jelas ukurannya, kuantitatif,” ujarnya.
Sementara Agus Martowardojo dinilainya tidak mampu membangun komunikasi yang baik dengan Presiden dan anggota kabinet yang lain.
Qodari melanjutkan, ada sejumlah menteri yang menjadi beban Presiden jika tidak diganti, tetapi juga sulit diprediksi kemungkinannya untuk diganti. Mereka adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng, Menteri Perhubungan Freddy Numberi, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.
Dia menjelaskan, Presiden mendapat tekanan berat jika tidak mengganti Muhaimin karena selama ini banyak masalah ketenagakerjaan yang tidak terselesaikan di tangan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu.
“Pak Muhaimin banyak persoalan ketenagakerjaan, kasus korupsi di kementeriannya,” ujarnya.
Masalahnya, menurut Qodari, jika Muhaimin diganti, Presiden kemungkinan kehilangan dukungan dari PKB.
“Kemungkinan PKB keluar koalisi, harus ada partai lain yang masuk. Kemungkinan Gerindra, tetapi belum ada omongan Presiden dengan Gerindra, jadi kemungkinan Muhaimin hanya dirotasi,” paparnya.
Andi Mallarangeng dinilainya akan memberatkan Presiden jika tidak diganti mengingat persiapan SEA Games yang berlarut-larut di bawah kepemimpinannya. Ditambah lagi kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games yang melibatkan Sekretaris Menpora Wafid Muharam.
“Namun, sulit diprediksi karena kedekatan dengan Presiden dan keluarga,” kata Qodari.
Nama selanjutnya, Freddy Numberi, sulit diprediksi akan diganti atau tidak karena belum ada kandidat sedaerah yang dianggap kompeten menggantikan Freddy. Menurutnya, Presiden sangat memperhatikan keterwakilan daerah timur seperti Papua. Sementara Freddy selama ini dinilai Qodari belum mampu menyelesaikan masalah-masalah transportasi.
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, dalam analisa Qodari, berpeluang diganti meskipun cukup sulit diprediksi. Sebab, secara figur ia dinilai sangat berpengalaman di bidangnya. Akan tetapi, kondisi kesehatan Djoko yang tidak maksimal dapat menjadi pertimbangan lain.
“Pak Djoko ini sakit juga, pernah dirawat. Jadi, kalau kriteria Pak Daniel yang tidak capek, ini (Djoko) termasuk yang mengalami persoalan,” ungkapnya.
Selain mereka, menteri lain yang berpotensi diganti adalah Menteri Perumahan Rakyat Suharso Manoarfa serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar.
“Suharso karena target pencapaian dan masalah pribadi, sementara Patrialis masih banyak masalah di imigrasi, LP (Lembaga Pemasyarakatan), dan pernyataannya yang kontroversial,” kata Qodari.
Pengamat politik dari Soegeng Sarijadi Syndicate (SSS), Sukardi Rinakit, menambahkan, satu menteri lagi yang menurutnya patut diganti adalah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono. Selama ini kinerja Agung dinilai tidak terlihat.
“Menkokesra, ini tambahan yang enak, 10 orang jadinya, tambah Menkokesra,” kata Sukardi.
Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan akan mengganti susunan kabinetnya pada Oktober 2011.
Referensi :
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/02/perbedaan-karangan-ilmiah-semi-ilmiah-dan-non-ilmiah-2/
http://amatirs.blogspot.com/2010/04/perbedaan-karangan-non-ilmiah-semi.html
http://nasional.kompas.com/read/2011/09/24/14331495/6.Menteri.Berpeluang.Diganti.3.Lengser

Selasa, 04 Oktober 2011

Wacana dalam tataran ilmiah


pada tataran ilmiah di butuhkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD), karena biasanya penulisan ilmiah di tujukan kepada orang-orang yang ingin membacanya. Biasanya juga penulisan tataran ilmiah menggunakan bahasa yang sopan, tidak seperti sekarang ini banyak yang menggunakan bahasa-bahasa gaul.

Nah berikut contoh penulisan ilmiah :
Perumusan dan penerapan metode elemen hingga dianggap terdiri dari delapan langkah dasar. Langkah-langkah tersebut akan diuraikan dengan cara yang sangat umum. Sifat distribusi dari akibat-akibat yang ditimbulkan dalam suatu benda tergantung dari karakteristik istem gaya dan benda itu sendiri. Tujuan selanjutnya akan menggunakan istilah perpindahan atau deormasi sebagai pengganti istilah akibat.
Diasumsikan adalah sulit untuk mencari distribusi u dengan memakai metode-metode konvensional dan diputuskan untuk memakai meode elemen hingga yang didasarkan pada konsep diskritisasi. Benda dibagi menjadi sejumlah elemen kecil yang dinamakan elemen-elemen hingga. Akibat pembagian (subdivisi) semacam ini adalh perpindahan turut didiskritisasi menjadi sub-sub zona yang bersesuaian.sekarang elemen-elemen hasil pembegian diatas menjadi lebih mudah untuk ditinjau, ibandingkan dengan peninjauan seluruh benda dan distribusi u pada benda tersebut.

Minggu, 02 Oktober 2011

2. BAHASA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI



Bahasa adalah alat komunikasi untuk kita berinteraksi dengan manusia lainnya. Tanpa bahasa tidak mungkin kita dapat berinteraksi, karena bahasa adalah sumber untuk terciptanya interaksi manusia dengan yang lainnya. Bahasa di dunia ini sangat banyak, rata-rata setipa negara memiliki bahasa yang berbeda-beda meskipun ada yang sama tetapi tidak banyak dan tidak sepenuhnya sama pengucapannya, seperti contoh bahsa inggris ada yang UK dan USA setelah didengar, cara pengucapannya pun sangat berbeda.
Bahasa bukan saja berbeda disetiap negara, bahkan dalam satu negara pun terdapat banyak bahasa dari daerah atau wilayah masing-masing, jadi kita menyebutnya sebagai bahasa daerah. Seperti contoh negara kita ini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Indonesia memiliki banyak budaya dan bahasa daerah yang berbeda-beda, seperti contoh bahasa dari suku batak berbeda dengan suku minangkabau, jawa, ambon, manado, papua, dan lain-lain, sehingga banyak sekali bahasa yang terdapat dalam dunia ini.
Bahasa tidak juga diciptakan buat interaksi mamusia dengan manusia saja, ada juga bahasa diciptakan untuk menjadi media anatara manusia dengan hewan, jadi kita menyebutnya bahasa hewan, dan hewan pun dapat mengerti, meskipun hewan tidak mempunyai akal untuk mengerti sepenuhnya bahasa yang kita ucapkan, tetapi hewan memiliki insting untuk bisa mengerti bahasa yang kita ucapkan kepada hewan tersebut. Mungkin yang paling banyak kita jumpai adalah interaksi antara manusia dengan hewan peliharaannya seperti, kucing, anjing dan sebagainya. Contoh bahasa yang digunakan manusia untuk bisa berinteraksi dengan kucing dengan panggilan "meong" atau "guk-guk" pada hewan anjing.
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang baku, bukan bahasa gaul yang sering kita ucapkan sehari-hari. Bahasa Indonesia yang baku terdapat kosakata bahasa yang baik dan sopan. Bahasa Indonesia yang baku sangat berbeda dengan bahasa gaul.

Jadi gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena dengan kita menggunakan bahasa Indonesia secara baik, kita berarti sopan dalam bertutur kata.

1. CONTOH MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR


Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. Bahasa yang diucapkan bahasa yang baku.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Contoh Bahasa Indonesia yang baik dan benar:

1. Dosen memberi tahu info kepada mahasiswa
2. Paman mengendarai mobil kesayangannya
3. Adik ke sekolah menggunakan sepeda
4. Ari menjatuhkan sesuatu ke tempat sampah
5. Ibu berangkat ke Bandung