Sabtu, 07 Januari 2012

Atlet Para Games : Fisik Tak Menghambat Prestasi


Meskipun glamor multievent ASEAN Paragames tidak sehebat SEA Games, namun atlet difabel Indonesia telah mengharumkan Merah Putih saat berlaga di ASEAN Paragames VI/2011,Solo,Jawa Tengah,15–20 Desember 2011. Itu dibuktikan atlet-atlet Merah Putih dengan menduduki runner-up setelah mengoleksi 113 medali emas,108 perak,dan 89 perunggu. Pencapaian itu merupakan terobosan meski belum berhasil menaklukkan dominasi Thailand yang tampil sebagai juara umum dengan membawa pulang 123 medali emas,96 perak,dan 73 perunggu. Prestasi itu patut disyukuri karena atletatlet Indonesia telah berjuang keras memberikan yang terbaik,termasuk atlet difabel Indonesia di ASEAN Paragames tahun ini.

Dalam kondisi serbake kurangan itu, tak menghambat semangat para alet untuk bertarung di medan laga. Hasilnya luar biasa, Indonesia meraih prestasi terbaik di ASEAN Paragames sejak digulirkan pertama kali di Kuala Lumpur, Malaysia,2001.Merah Putih sebelumnya bercokol di peringkat 4 ASEAN Paragames III/2005,Manila,Filipina,dengan perolehan 30 medali emas,26 perak,dan 20 perunggu. Peringkat 4 ASEAN Paragames IV/2008, Nakhon Ratchasima,Thailand,setelah mengumpulkan 33 medali emas,25 perak, dan 18 perunggu.Posisi sama diraih Indonesia saat berlaga di ASEAN Paragames V/2009, Kuala Lumpur,Malaysia,dengan torehan 29 medali emas,25 perak,19 perunggu. Jika mengacu hasil di ASEAN Paragames dua tahun lalu,pencapaian medali Indonesia saat ini melonjak hampir 400%.

Prestasi itu jelas mengundang apresiasi pemerintah dengan memberikan bonus senilai Rp50 juta kepada peraih emas,Rp20 juta untuk peraih perak,dan peraih perunggu Rp10 juta.Tidak ketinggalan para pelatih yang mengantarkan atletnya meraih emas diberi penghargaan senilai Rp10 juta, perak Rp5juta, dan perunggu Rp2,5juta. 

Akan tetapi, prestasi gemilang atlet-atlet difabel Indonesia bukan lantaran Indonesia berstatus tuan rumah ASEAN Paragames kali ini,tapi lebih pada keinginan mereka menunjukkan jati diri tak mau kalah dengan manusia normal dalam segi fisik. Mereka membuktikan kegigihan itu selama bertarung selama lima hari di Solo.Bahkan, di cabang olahraga (cabor) renang,atlet difabel Indonesia menorehkan tujuh rekor baru. 

Mereka terlihat energik di saat dihadang kekurangan fisik. Itu membuktikan mereka tak mau menyerah dengan ketangguhan atlet-atlet Thailand yang telah meraih juara umum sejak ASEAN Paragames II/2003,Hanoi, Vietnam.Terbukti,Indonesia hanya tertinggal 10 medali emas dari duta Negeri Gajah Putih tahun ini.Itu membuktikan kualitas atlet difabel Indonesia bisa bersaing saat mengikuti ASEAN Paragames VII/2013, Naypyidaw, Myanmar.

Anak Rentan Terinfeksi HIV/AIDS


Kasus HIV/AIDS di Jawa Barat relatif tinggi hingga menempati urutan ketiga setelah Jakarta dan Jawa Timur. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun rawan terinfeksi penyakit ini. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dari tahun 1989 sampai September 2011 jumlah kumulatif penderita AIDS dan HIV positif tercatat 3.925 kasus AIDS dan 2.354 kasus HIV.Dari data tersebut, sebanyak 934 kasus AIDS dan 614 kasus HIV adalah perempuan yang juga merupakan calon ibu. Adapun sisanya,2.982 kasus AIDS dan 1.528 kasus HIV dijangkit para lelaki.

Dari 26 kabupaten dan kotamadya yang ada di Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung menempati urutan pertama sebanyak 1.570 kasus AIDS dan 851 kasus HIV. Diikuti Kota Bekasi (581 kasus AIDS dan 154 kasus HIV),Kota Sukabumi, Kota Bogor, Kabupaten Subang, Kabupaten Bandung, hingga yang terakhir Kota Majalengka dan Kota Banjar.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Dr Hj Alma Luchyati MKes MHKes  ”Faktor utama penyebabnya adalah penyalahgunaan obat terlarang dan hubungan seks bebas”. Karena itu, tidak ada cara lain selain bekerja sama dengan berbagai institusi dan sektor swasta guna melakukan intervensi untuk mengoptimal kan upaya pencegahan dan pengobatan pasien HIV/AIDS di Tanah Pasundan ini.

Salah satunya dengan memperluas penyediaan akses layanan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak (Prevention Mother To Child Transmission/ PMTCT). Program PMTCT ini hasil kolaborasi Dinkes Pemprov Jawa Barat dengan Frisian Flag Indonesia,Komisi Penanggulangan AIDSNasional (KPAN), Perkumpu lan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat  berkata “Program ini merupakan tindakan pencegahan seperti pemberian obat antiretroviral, persalinan seksio sesarea, asupan gizi yang tepat bagi anak, dan pemeriksaan kesehatan berkala bagi ibu dan anak”. Sementara itu, Dr Bagus Rahman Prabowo, perwakilan WHO Jawa Barat dan Konsultan Ahli Program PMTCT, mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan penularan HIV/AIDS tercepat di Asia Tenggara.

Sebanyak 26.400 orang mengidap AIDS dan lebih dari 66.600 orang telah terinfeksi HIV positif. Bagus menyebutkan, jumlah perempuan yang menderita HIV/AIDS mencapai 88.000, mereka berusia 15 tahun ke atas—berdasarkan data WHO. “Karena itu, perluasan program edukasi dan penanggulangan infeksi HIV/AIDS dari ibu ke anak yang dilakukan secara berkesinambungan, sangat dibutuhkan sebagai salah satu solusi dalam menurunkan risiko penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak,” kata Bagus.

Angka kejadian HIV/AIDS di kalangan perempuan menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, yaitu 13% pada tahun 2011, 21% pada tahun 2007, dan mencapai 33% pada tahun 2010.Situasi ini menempatkan anak pada posisi rentan dengan HIV/AIDS dari orang tuanya dalam proses persalinan, menyusui, dan melalui media lain seperti transfusi darah.

“Tanpa ada intervensi apa pun,sekitar 15%–30% ibu yang terinfeksi HIV menularkan infeksi HIV selama masa kehamilan dan pada saat proses persalinan,” tutur Dr Nirmala Kesumah MHA, Manajer dan Konselor Klinik Teratai RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. Pemberian air susu ibu, lanjutNirmala, jugameningkatkan risiko penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak sekitar 10-15%.

Dengan begitu,kemungkinan penularan 25%-45%, namun dengan intervensi PMTCT risiko penularan turun menjadi 2 %. Di Klinik Teratai,sejak 2007 telah dilakukan kegiatan active case finding,provider-initiated tesiting & counselling (PITC) dan screening kelompok rentan.

Dilema Literasi dalam Baca Puisi

Baca puisi menjadi ikhtiar menghadirkan puisi ke haribaan publik dengan jalan pelisanan. Berbagai event kesusasteraan atau kesenian kerap memberi ruang dan peluang bagi perayaan baca puisi, di samping festivalfestival baca puisi yang di gelar institusi-institusi kebudayaan.


Dinamika baca puisi kini pun mengalami rupa-rupa bentuk seperti deklamasi, musikalisasi puisi, penembangan puisi (poetry singing),atau pembacaan puisi (poetry reading). Sebagian kalangan menggelar baca puisi sebagai kerja apresiasi sastra.Kalangan lain menerima baca puisi sebagai bentuk seni otonom atau pentas tersendiri. Baca puisi menghadirkan suatu estetika kebunyian yang dipadu unsur teatrikal yang tidak teraba secara nyata dalam teks puisi. 
Laju bahasa dalam teks puisi dimutasikan menjadi objek bunyi konkret yang sarat imbangan intonasi, aksentuasi, ritme, irama, jeda, ornamen musikal, unsur teatrikal, dan sebagainya. Peristiwa baca puisi menghadirkan keserentakan teks puisi dengan gerak tubuh yang menandakan keseluruhan penghayatan si pembaca atas karya yang dibacakannya.

Lapis-lapis puisi yang ditubuhkan penyair di dalam jaringan diksi (teks) puisi harus ditemukan dan dinyawakan oleh aktor atau pembaca puisi.Kerja ini meniatkan agar lapis-lapis nilai puitik itu menjadi “makhluk” hidup audiovisual yang dapat dicerapkan dengan jernih dan rancak bersehayat dengan penonton atau pendengar. 

Budaya Akar 
Baca puisi ditengarai sebagai budaya akar pentas sastra Nusantara yang berkembang secara oral. Keberhasilan WS Rendra, pada dekade awal 1970-an, mengangkat keajekan seni deklamasi puisi menjadi pementasan yang sangat memperhitungkan unsur acting,set panggung,dan lighting, mengabarkan kebangkitan tradisi akar sastra Nusantara yang berciri pada pelakonan.

Yakni tradisi sastra yang bukan membaca teks (untuk) seorang diri, melainkan melisankannya di hadapan publik penonton atau pendengar. Kebangkitan pelisanan-pementasan puisi pada dekade 1970- an juga dapat ditilik dari geliat pembacaan puisi oleh para penyair seperti Sutardji Calzoum Bachri, Emha Ainun Nadjib, dan Linus Suryadi AG yang mendekatkan teks puisi kepada khalayak secara oral— yang ditubuhkan bersama elemen musikal dan teatrikal (Toda,2005: 93-95). 
Daya pikat baca puisi menjadi alternatif strategis dalam rangka “memasarkan”puisi (lebih luasnya sastra) kepada publik. Sastra,yang dalam debatan klasik diklaim kurang membumi di masyarakat, melalui baca puisi coba didekatkan seintim mungkin dengan masyarakat agar menjadi bagian hidup— selain memenuhi kebutuhan kesenian,tak jarang puisi diangankan mampu menginspirasi proses transformasi atau perubahan sosial. 
Pembacaan puisi di ruang-ruang publik atau sanggar-sanggar kesenian bisa dikatakan sebagai “gerakan” pemanggungan-pelisanan yang berjalan mengiringi gairah penerbitanbukusastra( puisi,kumpulan cerpen,roman,novel),dan menyemarakkan pelbagai perhelatan kesusasteraan. Launching atau bedah buku sastra,misalnya,kerap menyertakan agenda pembacaan atau musikalisasi puisi.Komunitaskomunitas yang bertumbuh kembangdipelbagaidaerahpun semakin meningkatkan intensitas baca puisi. 

Dilema Keberaksaraan 
Sapardi Djoko Damono dalam esainya,“Kelisanan dalam Keberaksaraan: Kasus Puisi Indonesia Mutakhir”, memandang kecenderungan pembacaan puisi sebagai bukti masyarakat ingin kembali ke kultur kelisanan atau bahkan menyiratkan bahwa kita belum pernah sepenuhnya masuk ke dalam tradisi keberaksaraan. 
Sekaligus menimbulkan kecurigaan, proses kreatif penyair di Indonesia masih belum beranjak jauh dari tradisi lisan. Esai tersebut mengingatkan, pelisanan rawan menyeret puisi ke lingkaran konvensi yang lazim, menjebak puisi pada keumuman. Khalayak pendengar pelisanan puisi adalah orang yang hidup dalam tradisi urban dan industri.Masyarakat macam itu,menyitir penyair Inggris W B Yeats, digambarkan sebagai masyarakat “tanpa kenangan keindahan dan kehalusan emosional”. 
MUSYAFAK Pengkaji Budaya dan Sastra di Open Mind Community, Semarang, berpendapat penyair tidak merasa perlu menawarkan kualitas artistik yang kompleks seperti lazim dipautkan dalam puisi. Justru penyair mengatur idenya sejalan dengan harapan pendengarnya.  

KAMPUS-KAMPUS PENGGIAT ANTIKORUPSI

1.   UNIVERSITAS PARAMADINA, JAKARTA.
Kampus ini mungkin yang pertama membuat kurikulum antikorupsi. Semua mahasiswa Universitas Paramadina wajib mengambil mata kuliah tersebut. Kurikulum baru tersebut mulai berjalan pada Juni 2008. 

2.   UNIVERSITAS INDONESIA (UI).
Kampus terbesar di Indonesia ini telah memiliki mata kuliah sosiologi korupsi. Mata kuliah ini memberi pemahaman mengenai korupsi sebagai masalah sosial. Lingkup pembahasan meliputi pendekatan, studi komparatif korupsi di Asia, dan “gerakan” korupsi di Indonesia.

3.   INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB), Bandung, Jawa Barat.
Mata kuliah antikorupsi dijadikan sebagai mata kuliah pilihan, bukan mata kuliah penuh. Menariknya, mata kuliah pilihan ini tidak diujikan, tetapi mahasiswa harus dapat mengerjakan tugas berupa penyusunan penelitian terkait dengan korupsi. 

4.   UNIVERSITAS GADJAH MADA (UGM), Yogyakarta.
Di sini ada Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat). Ini adalah lembaga di Fakultas Hukum yang peduli dan berperan aktif dalam pengembangan ilmu hukum dan penanggulangan serta pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia.

5.   SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA (STAN).
Kampus di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, ini pernah menggelar Kuliah Akbar Anti Korupsi oleh Spesialisasi Anti Korupsi (SPEAK) pada Januari 2011 lalu. Konsep acara ini adalah training penanaman integritas antikorupsi, berbeda dengan kuliah akbar sebelumnya yang mengusung konsep seminar. 

6.   UNIVERSITAS PANCA BHAKTI (UPB), Pontianak, Kalimantan Timur.
Kampus ini menerapkan pendidikan integritas tentang korupsi. Pendidikan integritas adalah pendidikan yang mengedepankan pembangunan karakter. 

7.   SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN), Tulungagung, Jawa Timur.
Pendidikan antikorupsi akan dimasukkan menjadi salah satu mata kuliah wajib. Tekadnya, kampus ini akan menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Tulungagung yang memiliki visi untuk membangun generasi yang bermental antikorupsi.

8.   IT TELKOM
Kampus ini pernah menggelar Seminar Anti Korupsi yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IT Telkom. Seminar yang mengusung tema “Harmoni Pemuda, Hentakan Bersama untuk Indonesia” itu menghadirkan pejabat KPK dan beberapa tokoh lintas agama.